Siswa SDN Kebon Kosong Beradaptasi untuk Mengatasi Trauma Kebakaran dan Kecemasan

Jakarta – Suasana psikologis dan emosional siswa-siswi di SDN Kebon Kosong 09, yang terletak di Kemayoran, Jakarta Pusat, mengalami perubahan yang signifikan. Setelah menghadapi trauma akibat kebakaran yang berulang kali terjadi, anak-anak ini kini mulai belajar cara menghadapi rasa takut dan kecemasan yang mereka alami. Proses pemulihan ini berkat dukungan layanan psikososial yang disediakan oleh Korps Relawan Bencana (Kresna) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi). Menurut Yuria Ekalitani, Ketua Divisi Program Kebencanaan Kresna Himpsi, pendampingan yang dilakukan telah menunjukkan perkembangan positif di kalangan anak-anak tersebut.
Perkembangan Emosional Pasca Kebakaran
Dalam kurun waktu tiga minggu, layanan dukungan psikososial yang diberikan berhasil membawa perubahan yang jelas. Salah satu kemajuan yang paling mencolok adalah peningkatan kemampuan siswa untuk mengenali dan mengatur emosi mereka setelah mengalami bencana kebakaran. Meskipun sekolah ini telah mengalami setidaknya tiga insiden kebakaran, anak-anak kini menunjukkan kemajuan dalam mengatasi perasaan takut dan cemas mereka.
“Dari seluruh rangkaian kegiatan layanan dukungan psikososial yang sudah kami lakukan, kami melihat begitu banyak perubahan positif,” ungkap Yuria ketika ditemui di SDN Kebon Kosong 09, pada tanggal 31 Agustus 2026. Sebelumnya, banyak anak yang kesulitan mengendalikan emosi pasca kebakaran. Kecemasan dan ketakutan menjadi isu yang penting untuk ditangani. Melalui program pendampingan ini, anak-anak diajarkan untuk mengenali perasaan mereka dan mempelajari teknik stabilisasi ketika rasa cemas atau takut muncul kembali.
Peningkatan Kemampuan Mengelola Emosi
Yuria menambahkan, anak-anak yang dulunya tidak dapat mengelola emosi mereka kini telah lebih memahami cara untuk mengatur perasaan tersebut. Ini adalah langkah penting dalam proses pemulihan mereka.
Pengamatan Kepala Sekolah
Kepala SDN Kebon Kosong 09, Khairunnisa, juga mencatat adanya perubahan positif dalam perilaku siswa selama mengikuti program pendampingan psikososial. Dia mengamati bahwa suasana di kelas perlahan menjadi lebih tenang. “Dari hari pertama yang tadinya ramai, di hari kedua mulai agak tenang, dan di hari ketiga, suasananya jadi lebih damai,” jelas Khairunnisa. Dia percaya bahwa kegiatan psikososial ini membantu anak-anak untuk merasa lebih tenang, mengingat dampak psikologis dari bencana tidak selalu terlihat secara langsung.
Menangani Trauma Secara Holistik
Kegiatan pendampingan psikologis ini mencakup seluruh siswa di SDN Kebon Kosong 09 yang jumlahnya mencapai 293 anak. Mengingat lokasi sekolah yang rawan kebakaran, pendampingan ini sangat penting. “Sekolah kami berada di area yang sudah tercatat mengalami kebakaran sebanyak tiga kali dalam satu tahun,” jelas Khairunnisa. Oleh karena itu, pendampingan ini tidak hanya berfokus pada pemulihan kondisi psikologis setelah kebakaran, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan untuk menghadapi emosi saat berada di situasi yang menakutkan.
Peran Guru dan Orang Tua dalam Pendampingan
Selain siswa, guru juga mendapatkan pelatihan untuk memberikan bantuan psikologis awal jika menemukan siswa yang membutuhkan dukungan. Para orang tua pun diberikan psikoedukasi tentang cara mendampingi anak-anak mereka dan mengelola stres di lingkungan keluarga.
- Guru dilatih untuk memberikan dukungan psikologis yang efektif.
- Orang tua mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan stres.
- Siswa diajarkan teknik regulasi emosi.
- Program ini melibatkan seluruh komunitas sekolah.
- Fokus pada pencegahan dan pemulihan jangka panjang.
Menciptakan Lingkungan Aman untuk Belajar
Bagi SDN Kebon Kosong 09, proses pemulihan pasca kebakaran tidak hanya berkisar pada pengembalian kegiatan belajar mengajar. Anak-anak perlu mendapatkan ruang untuk merasa aman, mengenali emosinya, dan belajar menghadapi ketakutan yang mungkin masih ada. “Kami berusaha menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan psikologis mereka,” tambah Khairunnisa.
Dengan adanya dukungan yang terus-menerus dan pendekatan yang holistik, diharapkan siswa-siswa ini dapat sepenuhnya pulih dari trauma yang mereka alami akibat kebakaran. Proses ini tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga komitmen dari seluruh pihak yang terlibat, termasuk sekolah, orang tua, dan masyarakat setempat.
Membangun Ketahanan Emosional Melalui Pendidikan
Pentingnya pendidikan dalam membangun ketahanan emosional anak-anak tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan memberikan alat dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi rasa cemas dan takut, sekolah-sekolah seperti SDN Kebon Kosong 09 berkontribusi pada pembentukan generasi yang lebih kuat dan tangguh.
Secara keseluruhan, pengalaman siswa-siswi di SDN Kebon Kosong 09 menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak dapat belajar untuk mengatasi trauma kebakaran dan kecemasan yang menyertainya. Dengan pendekatan yang komprehensif, mereka tidak hanya dapat pulih, tetapi juga berkembang menjadi individu yang lebih resilien.
➡️ Baca Juga: Krisis Air Saat Kemarau: Siswa Diwajibkan Bawa Air dari Rumah ke Sekolah
➡️ Baca Juga: Pemerintah Dorong Motor Listrik untuk Pasar Domestik dan Ekspor Motor Bensin