pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

slot depo 10k slot depo 10k
Nasional

Faktor Penyebab Sulitnya Pemadaman Karhutla di Lahan Gambut yang Perlu Diketahui

Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan utama. Salah satu tantangan terbesar dalam penanganannya adalah ketika api menyerang lahan gambut. Meskipun tampak padam setelah disiram air, masalah sebenarnya sering kali belum sepenuhnya teratasi. Gambut memiliki kemampuan untuk menyimpan bara di kedalaman tanah, dan ketika kondisi gambut mengering, api dapat menyala perlahan di lapisan bawah tanah yang sulit terdeteksi dari permukaan. Ini menjadikan proses pemadaman dan pendinginan pada kebakaran gambut memakan waktu lebih lama dan rumit.

Karakteristik Gambut yang Menyulitkan Pemadaman

Gambut sering kali diibaratkan sebagai “bom waktu.” Saat dalam keadaan basah, gambut relatif aman dari kebakaran. Namun, ketika musim kemarau tiba dan gambut mulai kering, material organik yang terakumulasi selama bertahun-tahun dapat menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Lalu, mengapa api di lahan gambut begitu sulit untuk dikendalikan?

  • Api dapat menyala di bawah tanah, bukan hanya di permukaan.
  • Pemadaman membutuhkan jumlah air yang cukup dan waktu yang lebih lama.
  • Kondisi kering membuat permukaan gambut lebih mudah terbakar.
  • Saluran atau kanal yang dibangun untuk mengalirkan air justru mengurangi kelembapan tanah.
  • Deteksi titik api yang sulit karena api tidak selalu terlihat di permukaan.

Tantangan dalam Penanganan Karhutla

Menurut Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, kondisi gambut menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla. Di Kalimantan Barat, operasi darat menjadi fokus utama, mengingat metode water bombing dari udara seringkali tidak efektif untuk kebakaran di lahan gambut. Suharyanto menjelaskan, “Operasi darat tetap menjadi tumpuan, karena itu adalah sarana yang paling efektif dalam menangani karhutla ini.”

Tantangan ini semakin terlihat ketika api kembali muncul setelah dinyatakan padam. Pada awal September 2026, Suharyanto melaporkan bahwa sekitar 98 persen kebakaran lahan gambut di enam provinsi prioritas telah berhasil dipadamkan. Namun, beberapa area masih memiliki titik api yang belum padam, dan api yang sebelumnya dinyatakan padam dapat menyala kembali.

Kerja Sama Antara Berbagai Pihak

Pemerintah daerah juga menghadapi tantangan serupa, seperti yang terlihat di Riau, yang memiliki luas lahan gambut yang signifikan. Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, aparat, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya dalam menangani karhutla. “Keberhasilan ini bukan hanya milik individu atau institusi tertentu, melainkan merupakan hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat Riau,” ujarnya.

Pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan pemadaman saat api sudah membesar. Provinsi Riau berupaya memperkuat personel dan peralatan serta meningkatkan koordinasi untuk menghadapi risiko karhutla. Penanganan di kawasan gambut juga memerlukan proses pendinginan untuk memastikan bahwa bara yang tersisa di bawah permukaan tidak kembali menyala.

Pernyataan dari Pemerintah Pusat

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, yang menekankan perlunya penanganan lebih serius dalam pemadaman kebakaran di lahan gambut. “Terlihat bahwa hanya tersisa asap, tetapi tanpa pendinginan yang tepat, api dapat muncul kembali kapan saja. Oleh karena itu, saya meminta semua pihak untuk tetap waspada,” katanya saat meninjau karhutla di Kerumutan, Riau.

Pandangan dari Lembaga Lingkungan

Dari sudut pandang Greenpeace, masalah gambut tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekosistem dan pengelolaan lahan yang ada. Peneliti Senior Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda, menyatakan bahwa wilayah dengan lahan gambut yang luas sangat rentan terhadap kebakaran saat kering dan sulit untuk dipadamkan. Menurutnya, faktor-faktor seperti musim kemarau, fenomena El Niño, dan angin monsun dapat memperburuk situasi kebakaran dan penyebaran asap.

Penyidikan dan Penanganan Kebakaran di Riau

Polda Riau melakukan penyidikan terhadap kebakaran yang terjadi di Agustus 2026 dengan melibatkan berbagai ahli, termasuk Herman Marbun sebagai ahli perkebunan. Tim ini menganalisis titik awal api, pola penyebaran kebakaran, serta kondisi lahan dan vegetasi. Kombes Pol Ade Kuncoro Ridwan, Direktur Reskrimsus Polda Riau, menjelaskan bahwa tujuan penyidikan bukan hanya menemukan titik api atau mengamankan barang bukti, tetapi juga untuk memahami secara ilmiah bagaimana kebakaran terjadi, apa penyebabnya, serta sejauh mana kerugian yang ditimbulkan terhadap lingkungan.

Pentingnya Pencegahan dan Pemadaman yang Efektif

Untuk menghadapi karhutla di lahan gambut, pendekatan yang lebih komprehensif diperlukan. Prinsip “lihat api, lalu siram” tidak lagi mencukupi. Pencegahan harus dilakukan jauh sebelum gambut mengering, dan ketika kebakaran terjadi, pemadaman harus diikuti dengan proses pendinginan dan pemantauan yang ketat.

Pemerintah terus menerapkan berbagai strategi, termasuk kombinasi operasi darat, patroli udara, water bombing, serta operasi modifikasi cuaca. BNPB melaporkan pada awal September 2026 bahwa masih ada sejumlah titik yang memerlukan pemadaman dan pendinginan, terutama di area gambut.

Kesadaran akan Fungsi Ekologis Gambut

Istilah “bom waktu” bukan berarti gambut pasti akan terbakar. Sebaliknya, gambut yang tetap terjaga kelembapannya memiliki peran ekologis yang sangat penting dan mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar. Masalah muncul ketika keseimbangan air terganggu, lahan mulai mengering, dan bertemu dengan sumber api. Dalam kondisi tersebut, api dapat menyala di bawah permukaan, menjadikan proses pemadaman jauh lebih rumit.

Oleh karena itu, menjaga agar gambut tetap basah dan mencegah kebakaran sejak awal jauh lebih penting daripada menunggu hingga api berkobar menjadi besar. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga lingkungan sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla di lahan gambut.

➡️ Baca Juga: Harga Tiket Bus Double Decker VIP 2026: Tarif dan Fasilitas Premium yang Tersedia

➡️ Baca Juga: Sistem Kerja Proyek Freelance yang Lebih Terprediksi dan Efisien untuk Hasil Optimal

Related Articles

Back to top button