Harga Pangan Stabil di Ramadan dan Idulfitri, Pemerintah Siap Hadapi Iduladha

Jakarta – Dalam upaya menjaga kestabilan harga pangan menjelang Hari Raya Iduladha yang jatuh pada akhir Mei, pemerintah telah mengambil langkah-langkah proaktif. Hal ini dilakukan berdasarkan keberhasilan pengendalian inflasi yang terlihat selama Ramadan dan Idulfitri 2026, di mana inflasi terpantau lebih stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Antisipasi Kenaikan Permintaan Daging Kurban
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan stabilitas harga, terutama untuk komoditas daging yang akan menjadi pilihan utama dalam perayaan Iduladha.
“Menghadapi Iduladha di bulan Mei, kami menyadari akan ada peningkatan permintaan. Oleh karena itu, kami telah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari untuk dapat mengendalikan harga. Kami berharap harga daging kurban dapat tetap terjaga dengan baik,” ungkap Deputi Ketut dalam Rapat Pengendalian Inflasi yang berlangsung di Jakarta pada hari Senin (6/4).
Pencapaian Stabilitas Inflasi Selama Ramadan
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi pada periode Ramadan dan Idulfitri tahun ini terpantau lebih terkendali. Momen-momen ini biasanya seringkali memicu lonjakan harga, namun pada 2026, kenaikan harga tidak semasif tahun-tahun sebelumnya.
“Secara historis, selama Ramadan dan Lebaran, kita sering melihat adanya lonjakan inflasi dari bulan ke bulan. Namun, pada Maret 2026, inflasi yang terjadi tidak setinggi inflasi pada tahun lalu,” jelas Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS, dalam kesempatan yang sama.
Amalia menambahkan, “Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga yang dirasakan masyarakat tidak seberat tahun lalu selama Ramadan dan Lebaran.”
Tren Positif Pasca-Idulfitri
Setelah perayaan Idulfitri, tren positif dalam pengendalian harga pangan terus berlanjut. Data dari Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu pertama April menunjukkan bahwa jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan harga semakin menurun, sedangkan daerah yang mengalami penurunan harga justru bertambah.
“Dari perkembangan IPH di berbagai daerah, terlihat bahwa jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga semakin berkurang dibandingkan minggu sebelumnya, sementara kabupaten/kota yang mengalami penurunan harga justru meningkat. Ini menandakan bahwa setelah Lebaran, harga mulai kembali normal,” jelas Amalia.
Detail Perubahan Harga Pangan
Secara rinci, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH untuk daging ayam ras tercatat sebanyak 148 daerah, turun dari 237 daerah sebelumnya. Sementara itu, untuk telur ayam ras, jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH menjadi 145, setelah sebelumnya mencapai 256 daerah.
Cabai rawit juga mengalami pergeseran, dengan jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH menjadi 130 daerah, berkurang dari 200 daerah. Daging sapi menjadi komoditas dengan perubahan jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH paling signifikan, dari 186 daerah menjadi 80 daerah pada minggu pertama April.
Penguatan Pengawasan Harga Pangan
Deputi Bapanas Ketut menjelaskan bahwa pencapaian positif dalam pengendalian harga pangan tidak terlepas dari penguatan pengawasan yang dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan yang telah aktif sejak sebelum Ramadan.
“Harga pangan mulai menunjukkan tren yang lebih stabil, seiring dengan penurunan inflasi. Salah satunya berkat dibentuknya Satgas Saber Pangan sesuai arahan Kepala Bapanas, Bapak Andi Amran Sulaiman, yang telah melakukan pengawasan di 74 ribu titik sejak 5 Februari hingga 4 April,” jelas Ketut.
“Hasilnya, kami melihat adanya penurunan inflasi pangan, baik secara bulanan maupun tahunan. Ini adalah pencapaian yang perlu diapresiasi, khususnya kepada rekan-rekan di Polri dan seluruh pemerintah daerah yang aktif dalam menjalankan pengawasan ini,” tambahnya.
Data Inflasi Pangan Terbaru
Secara statistik, inflasi pangan (volatile food) pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,58 persen secara bulanan, menurun dari 2,50 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi pangan secara tahunan juga menunjukkan penurunan, dari 4,64 persen menjadi 4,24 persen.
Dengan berbagai langkah yang telah diambil oleh pemerintah, harapannya adalah agar harga pangan tetap stabil, sehingga masyarakat dapat merayakan Iduladha dengan tenang dan tanpa khawatir akan lonjakan harga yang berlebihan. Upaya ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan dan stabilitas harga bagi seluruh masyarakat.
Melalui pengawasan yang ketat dan kolaborasi antar lembaga, pemerintah berupaya memastikan bahwa semua kebutuhan pangan, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan, dapat terpenuhi tanpa menimbulkan gejolak harga yang merugikan masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat menjalani perayaan Iduladha dengan khidmat, tanpa harus terbebani oleh masalah harga pangan yang tidak terkendali. Stabilitas harga pangan adalah kunci untuk menjaga kesejahteraan masyarakat, dan pemerintah berkomitmen untuk terus bekerja keras dalam hal ini.
➡️ Baca Juga: Cek Bansos PKH dan BPNT April 2026 Secara Online di cekbansos.kemensos.go.id dengan Mudah
➡️ Baca Juga: Toyota Menguasai 31,2 Persen Pangsa Pasar Otomotif Indonesia pada 2025