Negara Anggota WHO Ajukan Permohonan Perpanjangan Tenggat Waktu Resmi

JENEVA – Pada tanggal 28 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa proses perundingan untuk menyelesaikan elemen-elemen krusial dari kesepakatan mengenai pandemi telah resmi diperpanjang. Kesepakatan ini bertujuan untuk mencegah terulangnya kepanikan dan kekacauan yang disebabkan oleh Covid-19.
Perpanjangan Negosiasi oleh Negara Anggota WHO
Sejak tanggal 23 Maret, negara-negara anggota WHO berkumpul di markas besar badan kesehatan PBB di Jenewa, Swiss, untuk apa yang seharusnya menjadi putaran terakhir dari perundingan ini. Mereka berfokus pada pencapaian kesepakatan mengenai sistem Akses dan Pembagian Manfaat Patogen (PABS), yang merupakan komponen penting dalam teks kesepakatan tersebut.
Akan tetapi, pada malam tanggal 28 Maret, WHO mengumumkan bahwa negara-negara anggota telah sepakat untuk melanjutkan negosiasi, dengan pertemuan baru dijadwalkan berlangsung antara 27 April hingga 1 Mei.
Sejarah dan Tujuan Kesepakatan Pandemi
Pada bulan Mei tahun lalu, negara-negara anggota WHO telah mengadopsi kesepakatan penting yang berkaitan dengan penanganan krisis kesehatan di masa depan. Kesepakatan ini merupakan hasil dari lebih dari tiga tahun diskusi yang dipicu oleh dampak besar dari pandemi Covid-19. Salah satu tujuan utama dari kesepakatan ini adalah untuk memastikan bahwa respons global terhadap pandemi di masa depan tidak terfragmentasi seperti yang terjadi pada awal krisis virus korona.
Pentingnya Sistem PABS
Namun, perbincangan mengenai sistem PABS, yang menjadi inti dari perjanjian ini, sempat ditunda untuk mempercepat proses mencapai kesepakatan. Sistem ini berkaitan dengan mekanisme berbagi akses terhadap patogen berbahaya yang memiliki potensi untuk memicu pandemi, serta pembagian manfaat dari pengembangan vaksin, tes, dan terapi yang dihasilkan dari data tersebut.
Pandangan Berbeda Antara Negara Anggota
Meski demikian, para pengamat internasional mengindikasikan bahwa terdapat perpecahan yang signifikan di antara negara-negara anggota selama sesi negosiasi minggu lalu. Beberapa negara, terutama yang berada di Afrika, menuntut jaminan bahwa setelah mereka berbagi data tentang patogen, mereka akan mendapatkan akses ke semua produk yang dikembangkan berdasarkan informasi tersebut.
- Negara-negara Afrika menginginkan akses yang lebih baik terhadap hasil penelitian.
- Pembagian keuntungan dianggap penting untuk memastikan keadilan global.
- Negara-negara Eropa cenderung lebih skeptis terhadap kewajiban pembagian keuntungan.
- Perbedaan pandangan ini menghambat kemajuan negosiasi.
- Kesepakatan yang adil dianggap krusial untuk respon kesehatan global yang lebih efektif.
Di sisi lain, negara-negara Eropa, terutama yang memiliki industri farmasi yang kuat, telah memperingatkan bahwa kewajiban untuk membagi keuntungan dapat menghambat inovasi serta pengembangan penelitian baru.
Tantangan dalam Negosiasi
Seorang sumber diplomatik Barat menyatakan, “Sayangnya, terdapat perbedaan pandangan yang signifikan tentang bagaimana kita dapat memastikan bahwa sistem ini berfungsi dengan baik.” Pernyataan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam mencapai konsensus di antara negara anggota WHO.
WHO juga mengakui pada hari Sabtu bahwa negara-negara anggotanya menyadari perlunya waktu tambahan untuk menyelesaikan pembahasan mengenai sistem PABS. Para delegasi ditugaskan untuk merampungkan sistem ini sebelum Sidang Majelis Kesehatan Dunia berikutnya, yang dijadwalkan pada pertengahan Mei.
Pesan dari Para Ahli Kesehatan
Dalam konteks perpanjangan pembicaraan, Michel Kazatchkine, anggota Panel Independen untuk Kesiapan dan Respons Pandemi, menyampaikan pesan yang sama. Ia mendorong negara-negara anggota untuk tetap berupaya mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
“Kerja keras yang dilakukan dalam beberapa minggu ke depan dapat membawa manfaat besar untuk keamanan dunia di masa depan,” ungkap Kazatchkine.
Pentingnya Penyelesaian yang Segera
Sementara itu, kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengingatkan negara-negara anggota bahwa mereka harus menyelesaikan tugas ini dengan segera. “Pandemi berikutnya tidak akan menunggu,” tegasnya, menekankan urgensi untuk mencapai kesepakatan yang efektif dan berkelanjutan.
Dengan perpanjangan tenggat waktu ini, negara anggota diharapkan dapat kembali ke meja perundingan dengan semangat baru dan komitmen untuk menyelesaikan isu-isu kritis yang masih tertunda. Dialog yang konstruktif dan kolaboratif akan sangat penting untuk mencapai kesepakatan yang dapat melindungi kesehatan masyarakat global di masa mendatang.
Kesepakatan ini bukan hanya tentang mengatur respon terhadap pandemik saat ini, tetapi juga tentang membangun fondasi yang kuat untuk sistem kesehatan global yang lebih responsif dan adaptif di masa depan. Dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks, kolaborasi antara negara anggota WHO menjadi kunci untuk menciptakan dunia yang lebih aman dan sehat.
➡️ Baca Juga: Perbandingan Harga Terbaru Honda Scoopy dan Yamaha Fazzio April 2026 yang Perlu Diketahui
➡️ Baca Juga: Sinopsis Lengkap One Piece Live Action Netflix: Awal Petualangan Bajak Laut yang Menarik