Memahami Kiswah: Penutup Ka’bah yang Diganti Setiap Tahun

Ka’bah, sebuah struktur kubus di pusat Masjidil Haram, Mekkah, membawa berbagai simbol yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah satu elemen yang paling mencolok adalah kain hitam besar yang mengelilingi struktur tersebut, dikenal sebagai Kiswah. Kiswah, yang aroma wangi sutranya sering kali mengingatkan jemaah yang pernah mengunjungi tempat suci ini, memiliki latar belakang sejarah dan tradisi yang kaya. Dari produksinya yang mewah hingga perubahannya sepanjang sejarah, Kiswah penutup Ka’bah adalah simbol penghormatan dan tradisi ibadah yang berharga bagi umat Islam di seluruh dunia.
Kiswah: Jubah Ka’bah
Dalam bahasa Arab, Kiswah berarti jubah atau penutup, dan dalam konteks Ka’bah, merujuk pada kain besar yang menutupi seluruh permukaannya. Kiswah diganti setahun sekali pada tanggal 9 Dzulhijjah, saat jemaah haji melakukan ritual wukuf di Padang Arafah. Sebelumnya, Ka’bah ditutupi dengan kain putih yang melambangkan pakaian ihram yang dikenakan oleh jemaah haji.
Pembuatan Kiswah
Kiswah dibuat dari campuran kain katun dan sutra murni, yang dihiasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kaligrafi yang disulam dengan benang emas dan perak. Proses pembuatan ini membutuhkan biaya yang cukup besar, sekitar 17 juta riyal Saudi atau sekitar Rp75 miliar. Angka ini mencakup berbagai bahan utama, termasuk sekitar 670 kilogram sutra mentah yang diwarnai hitam, 120 kilogram benang emas, dan 100 kilogram benang perak. Setelah kain baru dipasang dan diikat dengan cincin tembaga pada bagian dasar marmer Ka’bah, kain lama dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan diberikan sebagai hadiah kehormatan kepada tokoh agama dan pejabat negara dari berbagai negara.
Perajin Kiswah
Pembuatan kiswah adalah tugas yang dijalankan oleh pengrajin, kaligrafer, dan seniman Muslim. Mereka memastikan setiap ayat Al-Qur’an tersulam dengan presisi di atas kain sutra, menjadikan setiap potongan kiswah karya seni yang menakjubkan dan penuh makna religius.
Perubahan Kiswah Sepanjang Sejarah
Kiswah telah mengalami perubahan sepanjang sejarah Islam. Tradisi penyediaan kiswah awalnya menjadi tanggung jawab para penguasa Makkah. Pada masa pemerintahan Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah, Ka’bah bahkan pernah menggunakan tiga jenis kain penutup berbeda dalam setahun. Namun, sejak abad ke-13 hingga saat ini, warna hitam telah menjadi identitas dari kiswah yang menutupi Ka’bah. Beberapa tokoh kaya dalam sejarah juga dikenal telah menyumbangkan kain untuk kiswah, termasuk Ramisht, seorang pedagang dari Siraf pada abad ke-12 yang menyumbangkan tekstil dari Tiongkok.
Memahami kiswah lebih dari sekedar mengetahui tentang penutup Ka’bah. Ini adalah cara untuk memahami lebih dalam tentang tradisi dan sejarah umat Islam, serta pentingnya Ka’bah sebagai pusat ibadah umat Muslim di seluruh dunia.
➡️ Baca Juga: Indrak, Spesialis SEO, Gagal Mencegah Kekalahan Ajax di Markas Groningen
➡️ Baca Juga: 7 Menu Sahur Sehat agar Kuat Puasa Seharian Tanpa Lemas!