Kuota Tuna Sirip Biru Meningkat, Indonesia Didorong untuk Tingkatkan Nilai Ekonomi Laut

Jakarta – Indonesia baru saja mendapatkan kabar baik terkait kuota tangkapan tuna sirip biru selatan, yang mengalami peningkatan sebesar 25 persen. Dengan demikian, kuota tahunan yang diizinkan untuk periode 2027 hingga 2029 menjadi 1.670 ton, naik dari 1.336 ton sebelumnya. Kenaikan ini merupakan langkah penting untuk mengoptimalkan sumber daya laut Indonesia dan meningkatkan nilai ekonomi dari sektor perikanan.
Peluang Tambahan Kuota Tangkapan
Selain peningkatan kuota dasar, Indonesia juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan tambahan kuota hingga 1.500 ton per tahun. Tambahan ini berasal dari kuota yang tidak terpakai oleh negara-negara anggota Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT). Informasi ini disampaikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 10 Oktober.
Kesepakatan mengenai kenaikan kuota tersebut dicapai dalam Pertemuan Tahunan ke-33 CCSBT yang berlangsung di Brussel, Belgia, dan berakhir pada 8 Oktober. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam menjaga keberlanjutan dan pengelolaan tuna sirip biru selatan secara efektif.
Proses Perjuangan Kenaikan Kuota
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, menjelaskan bahwa usaha untuk meningkatkan alokasi kuota bagi Indonesia telah dilakukan selama beberapa tahun. Upaya tersebut dimulai dengan pengajuan proposal resmi pada Pertemuan Tahunan ke-30 CCSBT di Busan, Korea Selatan, pada tahun 2023.
Perjuangan ini berlanjut pada Pertemuan Tahunan ke-32 CCSBT yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2025, di mana Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia mengusulkan agar alokasi untuk negara kita mencapai 15 persen dari total tangkapan yang diizinkan, yang setara dengan sekitar 3.000 ton.
Dasar Usulan Kenaikan Kuota
Latif menegaskan bahwa usulan tersebut didasarkan pada prinsip keadilan, dengan mempertimbangkan posisi Indonesia sebagai negara pantai berkembang. Selain itu, Indonesia juga dikenal sebagai satu-satunya lokasi pemijahan tuna sirip biru selatan di dunia.
“Posisi Indonesia mencerminkan prinsip keadilan, status kami sebagai negara pantai berkembang, serta kenyataan geografis yang tidak terbantahkan sebagai penjaga satu-satunya kawasan pemijahan SBT di dunia,” ungkap Latif.
Peningkatan Total Tangkapan yang Diizinkan
Dalam pertemuan tahunan di Brussel, anggota CCSBT juga sepakat untuk meningkatkan total tangkapan yang diizinkan (Total Allowable Catch/TAC) tuna sirip biru selatan secara global menjadi 23.647 ton per tahun untuk periode 2027 hingga 2029. Indonesia mendukung kenaikan TAC ini, yang didasarkan pada kajian ilmiah, sambil terus memperjuangkan peningkatan alokasi untuk nasionanya.
Delegasi Indonesia juga mengemukakan beberapa langkah untuk memperbaiki tata kelola perikanan tuna sirip biru, termasuk:
- Penyelesaian kewajiban pengembalian kelebihan tangkapan (payback).
- Penguatan program pemantauan di atas kapal.
- Pengembangan sistem dokumentasi hasil tangkapan (Catch Documentation Scheme).
Nilai Ekonomi Tuna Sirip Biru
Tuna sirip biru selatan merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Harga ikan ini pernah mencapai rekor 3,2 juta dolar AS, atau sekitar Rp53,6 miliar, untuk satu ekor dengan berat 243 kilogram. Angka tersebut menunjukkan betapa berharganya tuna sirip biru dalam pasar internasional.
Sebagai jenis ikan yang bermigrasi jauh, tuna dikelola melalui organisasi pengelolaan perikanan regional (Regional Fisheries Management Organization/RFMO) yang bertanggung jawab dalam pengaturan pemanfaatan dan konservasi sumber daya ikan di wilayah kelola mereka.
Peran CCSBT dalam Pengelolaan Tuna
Dalam konteks tuna sirip biru selatan, pengelolaan dilakukan oleh Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT). Indonesia telah menjadi anggota organisasi ini sejak tahun 2008, menunjukkan komitmen negara kita dalam menjaga keberlanjutan dan konservasi sumber daya perikanan.
Kenaikan kuota tangkapan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi dari sektor perikanan, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem laut yang lebih luas. Dengan pengelolaan yang tepat, tuna sirip biru selatan dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi komunitas nelayan dan perekonomian nasional.
Strategi Pengelolaan Berkelanjutan
Untuk memastikan keberlanjutan tuna sirip biru selatan, penting bagi Indonesia untuk menerapkan strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Ini termasuk pengembangan kebijakan yang mendukung pelestarian habitat pemijahan serta pengawasan yang ketat terhadap aktivitas penangkapan.
Beberapa strategi yang bisa diterapkan meliputi:
- Penerapan kuota yang berkelanjutan berdasarkan penelitian ilmiah.
- Program pendidikan untuk nelayan mengenai praktik penangkapan yang ramah lingkungan.
- Peningkatan teknologi dalam pemantauan dan pelaporan hasil tangkapan.
- Kerja sama internasional dalam pengelolaan sumber daya laut.
- Penguatan penegakan hukum untuk mencegah penangkapan ilegal.
Dengan melaksanakan strategi-strategi ini, diharapkan Indonesia dapat memaksimalkan manfaat ekonomi dari tuna sirip biru selatan sambil menjaga keberlanjutan spesies tersebut untuk generasi mendatang.
Pentingnya Kerjasama Internasional
Dalam menghadapi tantangan pengelolaan tuna sirip biru selatan, kerjasama internasional menjadi kunci. Indonesia perlu terus berkolaborasi dengan negara-negara lain yang merupakan anggota CCSBT untuk berbagi data, pengalaman, dan praktik terbaik.
Kerjasama ini tidak hanya akan membantu Indonesia dalam mendapatkan informasi yang diperlukan untuk pengelolaan yang lebih baik, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam negosiasi mengenai kuota dan kebijakan konservasi di tingkat internasional.
Peran Masyarakat dan Stakeholder
Masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya juga memiliki peranan penting dalam pengelolaan tuna sirip biru. Melibatkan nelayan, komunitas pesisir, dan sektor swasta dalam pengambilan keputusan akan membantu menciptakan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, diharapkan semua pihak dapat berkontribusi dalam upaya menjaga sumber daya laut yang sangat berharga ini. Dengan dukungan dari semua pihak, Indonesia dapat mengoptimalkan potensi ekonomi dari tuna sirip biru selatan.
Keberhasilan dalam pengelolaan tuna sirip biru tidak hanya akan berdampak positif pada perekonomian, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat nelayan dan kelestarian ekosistem laut. Oleh karena itu, penting untuk terus berkomitmen dalam menjaga dan mengelola sumber daya perikanan secara berkelanjutan.
➡️ Baca Juga: PSSI Tegaskan Rivalitas Klub Tidak Boleh Mempengaruhi Timnas Indonesia
➡️ Baca Juga: Inovasi Pendidikan Bali: Koster Ajak Kepala Daerah Sesuaikan Metode Gasing