Kapasitas Terpasang Panas Bumi Meningkat 11,6%, Bahlil Tegaskan Pentingnya Konsesi Segera

Indonesia dikenal sebagai negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia, dengan kapasitas yang mencapai 23,2 gigawatt (GW). Namun, saat ini kapasitas terpasang hanya mencapai 2.776,39 megawatt (MW), yang berarti baru sekitar 11,6% dari potensi maksimal. Kesenjangan yang signifikan ini mendorong pemerintah untuk mempercepat pengembangan proyek serta meminta para pengembang yang telah mendapatkan konsesi untuk segera merealisasikan proyek mereka.
Ketimpangan Antara Potensi dan Realisasi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa keadaan ini mencerminkan ketidaksesuaian antara sumber daya yang dimiliki Indonesia dan implementasi yang terjadi di lapangan. “Indonesia adalah negara nomor satu di dunia dalam hal sumber daya geotermal. Namun, dalam penerapannya, kita masih kalah dari Amerika yang menempati posisi pertama,” ujarnya saat membuka acara The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta pada 19 Agustus.
Menurut data dari Kementerian ESDM, dari total potensi sebesar 23.202,77 MW, sekitar 88,4 persen atau lebih dari 20.000 MW masih belum dimanfaatkan sama sekali. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan ini.
Regulasi dan Insentif untuk Mempercepat Pengembangan
Pemerintah menempatkan panas bumi sebagai salah satu pilar kedaulatan energi, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, dalam upaya mengurangi ketergantungan pada impor energi di tengah ketidakpastian geopolitik global. Langkah-langkah konkret telah diambil untuk mempercepat pengembangan ini, termasuk memangkas sejumlah regulasi yang menghambat.
Ke depan, pemerintah akan merumuskan insentif perpajakan, melakukan revisi terhadap PP Nomor 7 Tahun 2017 yang mengatur pemanfaatan tidak langsung panas bumi, serta meningkatkan tingkat pengembalian investasi. Selain itu, revisi Perpres Nomor 112 Tahun 2022 juga akan dilakukan untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Kolaborasi Antara Pengusaha dan Regulator
Bahlil menegaskan bahwa kolaborasi antara pengusaha dan regulator menjadi kunci untuk percepatan implementasi geotermal. “Satu-satunya cara untuk mempercepat implementasi geotermal agar bisa menjadi sumber listrik dan lainnya adalah melalui kolaborasi yang solid,” katanya.
Aspek keekonomian juga menjadi fokus perhatian. Saat ini, nilai keekonomian panas bumi diperkirakan sekitar 9,5 sen AS per kWh. Namun, pelaku usaha masih menganggap angka ini belum optimal untuk mendorong investasi secara masif.
Pentingnya Realisasi Konsesi
Bahlil secara tegas meminta para pengembang yang telah mendapatkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) untuk segera mengambil langkah nyata. Ia menyoroti masih adanya permohonan penghentian sementara dan perpanjangan izin yang berulang kali diajukan oleh sebagian pengembang.
“Bagi pengusaha yang telah mendapatkan konsesi, segera bertindaklah. Jangan biarkan konsesi itu ditahan, karena hal tersebut hanya akan memperlambat proses pengembangan,” tegasnya.
Peluang Baru di IIGCE 2026
Dalam acara IIGCE 2026, pemerintah memberikan izin WKP Gunung Ungaran kepada PT PLN (Persero) dan WKP Telaga Ranu kepada PT Telaga Rano Geothermal. Selain itu, sepanjang tahun 2026, pemerintah akan menawarkan lima WKP dan tujuh wilayah penugasan untuk survei pendahuluan dan eksplorasi.
Penting untuk dicatat bahwa pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik. Kementerian ESDM juga mencatat bahwa pemanfaatan panas bumi telah meluas, termasuk untuk pengeringan kopi di Kamojang, pengolahan gula aren di Lahendong, dan ekstraksi mineral di Dieng.
Strategi Pembangunan Berkelanjutan
Pengembangan kapasitas terpasang panas bumi yang optimal akan memberikan banyak keuntungan, tidak hanya bagi sektor energi, tetapi juga bagi perekonomian secara keseluruhan. Dengan memanfaatkan potensi geotermal yang melimpah, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan kemandirian energi nasional.
Dalam upaya mencapai target ini, pemerintah berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi para investor. Ini termasuk memberikan kemudahan dalam perizinan dan memastikan bahwa regulasi yang ada tidak menjadi penghalang bagi pengembangan proyek.
Peran Teknologi dalam Pengembangan Energi Geotermal
Teknologi modern memainkan peran penting dalam pengembangan energi geotermal. Inovasi dalam teknologi pengeboran dan pengolahan dapat meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya panas bumi. Selain itu, penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan diperlukan untuk menemukan cara baru dalam memaksimalkan potensi yang ada.
- Inovasi dalam teknologi pengeboran yang lebih efisien.
- Penerapan teknik pemanfaatan panas bumi yang lebih ramah lingkungan.
- Pengembangan sistem pemantauan untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional.
- Investasi dalam penelitian untuk eksplorasi sumber daya baru.
- Peningkatan kolaborasi antara lembaga penelitian dan industri.
Kesimpulan: Masa Depan Energi Panas Bumi di Indonesia
Dengan langkah strategis yang diambil pemerintah dan komitmen dari pengusaha, masa depan energi panas bumi di Indonesia terlihat cerah. Peningkatan kapasitas terpasang panas bumi yang signifikan akan membawa dampak positif bagi perekonomian dan lingkungan. Jika ekosistem yang mendukung ini dapat terwujud, Indonesia berpotensi menjadi pemimpin dalam industri energi terbarukan global.
Melalui kolaborasi, inovasi, dan regulasi yang tepat, tantangan yang ada dapat diatasi, dan Indonesia bisa memanfaatkan potensi geotermal yang melimpah untuk kepentingan masyarakat dan keberlanjutan energi di masa depan.
➡️ Baca Juga: Gubernur Mirza Galakkan Semangat Gotong Royong dalam Pembangunan Daerah untuk Masyarakat
➡️ Baca Juga: Barcelona Hadapi Dilema Laga Derby dan Fokus Terbelah Jelang Pertandingan Krusial Melawan Atletico