Hana Malasan Mengalami Insiden Ditusuk 40 Jarum Setelah Syuting Film Kupeluk Kamu Selamanya

Jakarta – Aktris Hana Malasan baru-baru ini mengungkapkan pengalamannya yang mendalam saat berperan sebagai Ibu Naya dalam film drama keluarga berjudul “Kupeluk Kamu Selamanya”. Peran ini tidak hanya menguras emosinya, tetapi juga berdampak pada kondisi fisiknya. Dalam upaya untuk mendalami karakter Naya, Hana sengaja membangun beban emosional yang dirasakan oleh karakter tersebut, agar penampilannya di layar terasa lebih otentik. Naya digambarkan sebagai sosok perempuan yang membawa banyak beban hidup dan menyimpannya sendiri.
Proses Pendalaman Karakter yang Menantang
Hana menjelaskan bahwa ia dengan sadar mengambil pendekatan yang menantang dalam memerankan Naya. “Sebenarnya ada satu fakta menarik, di mana aku secara sadar melakukan hal ini… Naya ini kan memiliki banyak beban, lalu dia menyimpannya di bahu. Kita sering mendengar saran untuk tidak menyimpan beban di bahu kita, dan aku benar-benar merasakan itu. Jadi, aku memberikan tekanan yang cukup berat di bahu,” ungkapnya. Dalam beberapa hari syuting, Hana mengalami kesulitan untuk bergerak akibat ketegangan yang dialaminya.
Ketika proses syuting berlangsung, Hana mengalami cedera pada leher dan bahu, yang membuatnya semakin sulit untuk menjalani adegan-adegan emosional yang intens. Menghadapi tantangan tersebut, ia pun memutuskan untuk memanggil fisioterapis demi memulihkan kondisi tubuhnya. Dalam sesi terapi, Hana harus menjalani perawatan menggunakan 40 jarum. “Orang fisioterapisnya bertanya, ‘Hana, kamu ngapain? Apakah baru saja berolahraga?’ Tidak, ini semua karena syuting,” katanya sambil tersenyum.
Dampak Kelelahan Mental pada Kesehatan Fisik
Pengalaman yang dialami Hana membawa kesadaran baru tentang hubungan antara kelelahan mental dan fisik. “Aku menyadari bahwa kelelahan mental dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar pada fisik kita dibandingkan dengan kelelahan fisik biasa,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya tidak memendam beban pikiran terlalu lama, karena hal ini dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
“Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa saat menghadapi masalah atau beban mental, lebih baik untuk segera merilisnya agar tidak berdampak negatif pada tubuh,” lanjutnya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi Hana dalam menjalani kehidupan sebagai seorang aktris.
Riset Karakter yang Mendalam
Selain tantangan emosional, peran Naya juga menuntut Hana untuk menjalani riset karakter yang cukup mendalam. Ia banyak menggali informasi dari kehidupan nyata, terutama mengenai sosok ibu tunggal yang harus berjuang menghadapi berbagai tekanan dalam hidup. “Kalau ditanya, memang proses ini sangat berat. Kami berusaha mengupas sedalam mungkin apa yang dialami Naya. Riset yang dilakukan melibatkan banyak wawancara, melihat langsung kehidupan ibu tunggal, dan mencoba menyerap energi mereka,” jelasnya.
- Melakukan wawancara dengan ibu tunggal untuk memahami perspektif mereka.
- Observasi langsung kehidupan sehari-hari mereka.
- Mempelajari tantangan emosional dan fisik yang mereka hadapi.
- Menggali cerita inspiratif dari pengalaman mereka.
- Menciptakan koneksi emosional dengan karakter Naya.
Meskipun proses tersebut sangat melelahkan, Hana menganggapnya sebagai bagian dari tanggung jawab profesional sebagai seorang aktris. Baginya, setiap pengorbanan fisik dan mental yang dilakukan akan terbayar saat pesan dalam film dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Pengorbanan dan Imbalan dalam Dunia Akting
Hana menyadari bahwa setiap pekerjaan memiliki risiko, terutama dalam dunia akting. “Ini adalah risiko yang harus dihadapi sebagai seorang aktor. Namun, semua itu akan terasa sangat berharga ketika pesan dari karakter yang kami perankan dapat tersampaikan dengan baik,” tuturnya. Hana percaya bahwa setiap peran yang diambil adalah peluang untuk menyampaikan cerita yang dapat menginspirasi banyak orang.
Film “Kupeluk Kamu Selamanya” dijadwalkan tayang di bioskop mulai 30 April 2026. Hana Malasan berharap film ini dapat memberikan dampak positif bagi penontonnya dan mengajak mereka untuk merenungkan kondisi kehidupan yang dihadapi banyak orang, khususnya para ibu tunggal. Pengalaman mendalam yang ia jalani selama proses syuting menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya dalam seni peran.
➡️ Baca Juga: Kemenekraf Evaluasi Pemanfaatan AI untuk Mengatasi Kesenjangan Teknologi di Indonesia
➡️ Baca Juga: Perdana Bikin Posko Mudik buat Pengguna Polytron G3 Series