Gempa berkekuatan M7,7 yang mengguncang kawasan Timur Laut Nagekeo pada Sabtu dini hari menjadi peristiwa yang signifikan dan dirasakan hingga wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, serta Sulawesi Selatan. Menanggapi kejadian ini, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan mengenai posisi dan mekanisme terjadinya gempa. Mereka juga menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti instruksi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Posisi dan Mekanisme Gempa
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengungkapkan bahwa episenter gempa terletak di laut. Secara geologis, area sekitar episenter memiliki morfologi yang beragam, meliputi dataran rendah, perbukitan, hingga pegunungan. Struktur geologinya terdiri dari batuan gunung api berumur Tersier dan batuan sedimen yang berasal dari periode Kuarter.
Kondisi geologi ini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kekuatan guncangan yang dirasakan di permukaan. Batuan yang telah mengalami proses pelapukan, serta sedimen yang berada di permukaan, berpotensi untuk memperkuat dampak dari guncangan gempa tersebut. Lana Saria mengingatkan bahwa hal ini perlu menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama yang berada di daerah rawan gempa.
Karakteristik Tanah di Sekitar Episenter
Berdasarkan data lokal mengenai Vs30, wilayah di sekitar episenter diklasifikasikan ke dalam Kelas Tanah C, yaitu tanah yang sangat padat atau batuan lunak, Kelas Tanah D yang meliputi tanah dengan kepadatan sedang, dan Kelas Tanah E yang merupakan tanah lunak. Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak di area ini mengindikasikan bahwa potensi guncangan gempa bumi akan terasa lebih intens.
Penyebab Gempa: Sesar Naik Busur Belakang Flores
Gempa yang terjadi ini dipicu oleh aktivitas sesar naik yang terkait dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores, yang dikenal dengan istilah Flores Back Arc Thrust. Wilayah ini secara geologis memang termasuk dalam kawasan yang rawan bencana gempa bumi dengan kategori menengah hingga tinggi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai karakteristik sumber gempa sangat penting untuk upaya mitigasi risiko yang lebih efektif.
Data dan Waktu Kejadian Gempa
Badan Geologi mencatat bahwa gempa terjadi pada tanggal 15 Agustus 2026, tepatnya pukul 04.58.23 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, lokasi episenter terletak pada koordinat 8,33 LS – 121,32 BT di Timur Laut Nagekeo, NTT, dengan magnitudo awal yang tercatat adalah M7,0 dan kedalaman 10 kilometer. Namun, parameter ini kemudian diperbarui menjadi M7,7 dengan kedalaman yang lebih dalam, yaitu 15 kilometer.
Sementara itu, lembaga GeoForschungsZentrum (GFZ) mencatat episenter dengan koordinat 8,375 LS – 121,545 BT, di mana magnitudo yang tercatat adalah M6,25 pada kedalaman 10 kilometer. Data ini menunjukkan adanya perbedaan dalam catatan magnitudo yang diamati oleh berbagai lembaga, hal ini menekankan pentingnya pemantauan yang akurat terhadap kejadian seismik.
Intensitas Guncangan dan Dampaknya
Informasi dari BMKG melaporkan bahwa intensitas guncangan yang dirasakan berkisar antara IV hingga V pada skala MMI di beberapa lokasi. Di Ruteng, intensitas tercatat IV-V MMI, sedangkan di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, guncangan mencapai angka V MMI. Selain itu, daerah lain yang merasakan dampak adalah Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur dengan intensitas IV-V MMI.
Imbauan dari Badan Geologi
Badan Geologi mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa dan potensi tsunami. Masyarakat diminta untuk mengikuti arahan dari BPBD dan memeriksa kondisi bangunan mereka.
- Periksa kondisi bangunan agar tetap aman.
- Patuhi arahan dan rambu evakuasi yang ada.
- Siapkan diri untuk kemungkinan gempa susulan.
- Hindari area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah.
- Selalu waspada, terutama saat cuaca hujan.
Dengan memahami karakteristik penyebab dan dampak dari gempa M7,7 di Nagekeo, masyarakat diharapkan dapat lebih siap dan tanggap menghadapi situasi darurat. Kesiapsiagaan dan pemahaman yang baik akan membantu mengurangi risiko yang mungkin timbul akibat bencana alam ini.
➡️ Baca Juga: Alternatif Sehat dan Rendah Glikemik untuk Mengganti Nasi Putih dalam Diet Anda
➡️ Baca Juga: Warga Aceh Wajib Perhatikan Pembelian Makanan dan Minuman, 224 Produk Kemasan Disita