Jakarta – Dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk melakukan pemantauan dan intervensi secara intensif. Dengan situasi pasar yang bergejolak akibat ketegangan global, BI siap beroperasi selama 24 jam untuk memastikan bahwa pergerakan nilai tukar tetap dalam kontrol yang wajar.
Pantauan 24 Jam untuk Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan bahwa bank sentral berupaya maksimal untuk menjaga kestabilan rupiah. Menurutnya, BI tidak hanya mengawasi pergerakan nilai tukar di dalam negeri, tetapi juga melakukan pemantauan di pasar internasional, mencakup Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat. “Kami memastikan tetap waspada dengan memanfaatkan kantor perwakilan BI yang ada di luar negeri,” ujarnya dalam acara Central Banking Forum 2026 di Jakarta.
Pengaruh Ketegangan Global terhadap Rupiah
Nilai tukar rupiah mengalami tekanan setelah terjadinya konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari 2026. Data yang diperoleh dari BI menunjukkan bahwa rupiah telah melemah sekitar 1,91 persen dari nilai tukar sebelumnya. Meskipun demikian, pelemahan ini masih tergolong lebih rendah dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan, seperti:
- Won Korea Selatan: melemah 2,93 persen
- Baht Thailand: melemah 3,32 persen
- Peso Filipina: melemah 3,85 persen
Penyebab Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Destry menjelaskan bahwa kondisi global yang tidak stabil akibat konflik tersebut telah menyebabkan arus modal asing keluar dari negara-negara pasar berkembang. Situasi ini berkontribusi pada fluktuasi nilai tukar rupiah yang cenderung mengalami penurunan.
Strategi Intervensi Pasar oleh BI
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus aktif di pasar valuta asing, baik di pasar spot, pasar dalam negeri (Domestic Non-Deliverable Forward/DNDF) maupun pasar luar negeri (Non-Deliverable Forward/NDF). “Kami akan terus berupaya maksimal untuk menjaga stabilitas. Volatilitas nilai tukar akan terus kami monitor dengan seksama,” jelas Destry.
Lebih lanjut, pihak BI juga menggarisbawahi pentingnya intervensi pasar yang dilakukan secara terukur dan tepat waktu. “Kami akan tetap berada di pasar 24 jam, melakukan intervensi saat diperlukan,” tambahnya.
Menjaga Likuiditas Pasar
Untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, BI berupaya menjaga likuiditas pasar dengan menargetkan base money tidak kurang dari 10 persen. Base money ini mencakup total uang yang beredar di masyarakat serta cadangan minimum yang disimpan oleh bank komersial di BI.
Destry mengungkapkan bahwa pertumbuhan base money saat ini telah berada di atas 12 persen, yang menunjukkan bahwa BI masih dalam tahap melakukan ekspansi. Selain itu, BI juga bekerja sama dengan pemerintah dalam hal pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk memperkuat posisi likuiditas.
Upaya Mendorong Investasi Asing
Di sisi lain, untuk menarik lebih banyak investasi asing, BI juga telah melakukan penjualan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dalam satu pekan terakhir, penyerapan SRBI tercatat mencapai Rp32 triliun dengan imbal hasil yang meningkat. Langkah ini diharapkan dapat menarik kembali aliran dana asing ke dalam negeri.
Mendorong Transaksi dengan Mata Uang Lokal
Untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, BI juga aktif mendorong penggunaan transaksi dalam mata uang lokal. Local Currency Transaction (LCT) merupakan inisiatif yang memungkinkan transaksi antara Indonesia dan negara lain menggunakan mata uang lokal masing-masing negara.
Saat ini, Indonesia telah menerapkan LCT dalam transaksi dengan sejumlah negara, termasuk Tiongkok, Jepang, Malaysia, Korea, dan Thailand. “Jika penggunaan LCT dapat diperluas, kami percaya bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan dapat berkurang,” ungkap Destry.
Manfaat LCT bagi Ekonomi Indonesia
Adanya inisiatif LCT memberikan beberapa manfaat bagi perekonomian Indonesia, antara lain:
- Pengurangan ketergantungan pada dolar AS
- Stabilitas nilai tukar yang lebih baik
- Peningkatan daya saing produk lokal di pasar internasional
- Mempermudah transaksi perdagangan bilateral
- Mendorong aliran investasi lebih masuk ke Indonesia
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Dengan berbagai langkah strategis yang diambil oleh Bank Indonesia, diharapkan stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga dengan baik meskipun di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Komitmen BI untuk beroperasi “all out” selama 24 jam menunjukkan keseriusan dalam menjaga ekonomi Indonesia tetap kuat dan resilient. Dengan dukungan kolaboratif dari pemerintah dan berbagai pihak terkait, diharapkan masa depan perekonomian Indonesia akan semakin cerah.
➡️ Baca Juga: iForte National Dance Competition 2026: Dari Bandung Menuju Panggung Nasional yang Menginspirasi
➡️ Baca Juga: Pemkab Rejang Lebong Menargetkan PAD Pariwisata Rp600 Juta Tahun Ini untuk Meningkatkan Pendapatan