Jakarta – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengadakan acara bedah buku yang berjudul “Kedahsyatan Bahasa”, karya Dr. Atikah Solihah, M.Pd. Acara ini berlangsung di Aula Sasadu, Gedung M. Tabrani, Badan Bahasa di Rawamangun, Jakarta Timur, pada hari Rabu, 1 April.
Menyoroti Pentingnya Literasi Perempuan
Kegiatan ini berhasil menarik perhatian lebih dari 200 peserta dari berbagai profesi di bidang pendidikan, khususnya para wanita. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan 2026. Di antara tamu penting yang hadir, terdapat nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998, Prof. Wardiman Djoyodiningrat.
Bedah buku ini dirancang untuk menjadi wadah diskusi intelektual mengenai posisi strategis bahasa dalam konteks sosial dan pengembangan ilmu pengetahuan. Selain penulis buku, Atikah Solihah, acara ini menghadirkan Asma Nadia dan Ivan Lanin sebagai pembedah, serta Masmidah Abdul Mu’ti sebagai Penasihat DWP Persatuan Kemendikdasmen. Ni Luh Anik Mayani berperan sebagai moderator yang memandu diskusi.
Tujuan dan Harapan dari Kegiatan
Melalui kegiatan ini, Badan Bahasa dan DWP Kemendikdasmen berkomitmen untuk memperluas wawasan kebahasaan dan memperkuat pemberdayaan perempuan di bidang literasi. Forum ini diharapkan dapat memicu dialog reflektif dan inspiratif mengenai kekuatan bahasa dalam membangun pola pikir dan cara berkomunikasi. Agenda ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa dan literasi memiliki peran penting dalam pembangunan sumber daya manusia serta penguatan posisi perempuan di ruang publik.
Pelaksanaan bedah buku “Kedahsyatan Bahasa” juga sejalan dengan pesan utama Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan. Pesan tersebut menekankan bahwa perempuan yang berpendidikan akan lebih mandiri dalam menentukan arah hidupnya. Pendidikan diharapkan dapat meningkatkan martabat, daya pikir, daya kritis, dan partisipasi perempuan dalam proses pembangunan. Forum ini menghadirkan pertemuan antara isu perempuan, bahasa, sastra, dan literasi dalam satu wadah diskusi publik yang memperkaya ekosistem pendidikan.
Makna Peringatan Hari Kartini
Kegiatan ini juga menggarisbawahi pentingnya mengisi peringatan Hari Kartini dengan aktivitas yang bersifat edukatif dan berdampak. Bedah buku menjadi salah satu bentuk konkret dalam memperkuat literasi, menghidupkan kembali makna Kartini sebagai pelopor hak belajar, kebebasan berpikir, dan peningkatan harkat perempuan melalui pendidikan.
Memahami Buku “Kedahsyatan Bahasa”
Dr. Atikah menjelaskan bahwa buku “Kedahsyatan Bahasa”, yang terdiri dari 240 halaman, menyajikan tiga perspektif utama. Pertama, perspektif yang berkaitan dengan bidang keahlian para ahli bahasa. Kedua, membahas fungsi bahasa dalam komunikasi dan interaksi. Ketiga, perspektif yang mengulas fungsi representatif bahasa.
Ketika berbicara mengenai fungsi bahasa, Atikah merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik yang mencatat adanya 1509 peluang kerja. “Bahasa seharusnya bisa menggambarkan setiap peluang kerja tersebut. Dengan kata lain, sebanyak 1509 kesempatan itu bisa dijelaskan melalui pendekatan bahasa,” ujarnya.
Buku “Kedahsyatan Bahasa”, yang diterbitkan oleh CV Pustaka Press Indonesia pada tahun 2026, terdiri dari 15 bab. Atikah menekankan bahwa buku ini berupaya menampilkan keadaan dan keberadaan bahasa dalam berbagai perspektif. Pembahasannya disusun dalam bentuk yang luas dan mudah dipahami. “Dengan pendekatan ini, saya berharap tujuan untuk menegaskan pentingnya bahasa dalam berbagai aspek kehidupan dapat tercapai,” ungkap Atikah.
Ulasan oleh Pembedah Buku
Pembedah buku, Ivan Lanin, memberikan ulasan menyeluruh mengenai isi buku ini dengan gaya yang singkat dan tajam. Ia menyarankan agar pembaca menikmati buku karya Atikah ini dengan memilih bab-bab yang menarik, tanpa harus mengikuti urutan yang ditetapkan dalam buku.
Perempuan dan Bahasa: Suatu Hubungan yang Kuat
Ivan Lanin, yang dikenal sebagai pendiri Narabahasan, berbicara tentang hubungan antara perempuan dan bahasa. Ia menyatakan bahwa bahasa memiliki potensi untuk memberdayakan perempuan. “Kartini tidak menunggu ruang publik terbuka, tetapi menciptakannya sendiri. Pendidikan memberikan akses bagi perempuan untuk mendefinisikan diri mereka,” jelasnya. “Bahasa cinta bukan sekadar ungkapan, melainkan juga merupakan bentuk eksistensi.”
Dalam paparannya, Ivan mempertanyakan bagaimana perempuan berbahasa. Ia menyoroti bahwa bahasa yang dianggap “bernas” selama ini cenderung dingin dan tidak personal, sedangkan bahasa yang digunakan oleh perempuan, yang lebih relasional, sering kali dianggap kurang berwibawa. Padahal, hal ini mencerminkan kecakapan moral yang tinggi.
Menghadapi Tantangan AI dan Bahasa Perempuan
Ivan Lanin juga mengangkat isu mengenai kecerdasan buatan (AI) dan hubungannya dengan bahasa perempuan. Ia menjelaskan bahwa bahasa perempuan biasanya lebih banyak digunakan dalam konteks lisan dan domestik. Di sisi lain, AI dilatih menggunakan teks tertulis yang sering kali didominasi oleh suara institusi. “Apakah mesin sudah mampu memahami bahasa perempuan?” tanyanya, mengundang diskusi lebih lanjut.
Acara bedah buku “Kedahsyatan Bahasa” bukan hanya sekadar diskusi literer, tetapi juga menjadi platform yang mendukung peningkatan pemahaman bahasa sebagai alat pemberdayaan. Dengan kolaborasi antara akademisi, penulis, dan peserta, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kesadaran tentang pentingnya bahasa dalam kehidupan sehari-hari dan kontribusinya terhadap pemberdayaan perempuan.
Menjadi Agen Perubahan Melalui Bahasa
Peran bahasa dalam membentuk identitas dan cara berpikir sangatlah signifikan. Melalui bedah buku ini, diharapkan peserta dapat menangkap esensi kedahsyatan bahasa dalam konteks yang lebih luas. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga merupakan sarana untuk membangun kesadaran, menyampaikan gagasan, dan menginspirasi perubahan.
Keberadaan forum seperti ini penting untuk merangkul lebih banyak individu, terutama perempuan, agar aktif berpartisipasi dalam diskursus publik. Dengan demikian, literasi akan semakin meningkat, dan perempuan dapat lebih berdaya dalam menentukan posisi mereka di masyarakat.
Dalam konteks ini, penting bagi semua pihak untuk terus mendukung inisiatif yang mengedepankan pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Melalui kolaborasi dan dialog yang konstruktif, kita bisa bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk bersuara.
Dengan demikian, bedah buku “Kedahsyatan Bahasa” bukan hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga sebagai langkah nyata dalam memperkuat posisi bahasa dan literasi di kalangan perempuan. Ini adalah bagian dari upaya kolektif untuk menciptakan masyarakat yang lebih berdaya dan berpengetahuan.
➡️ Baca Juga: Akun BRImo Terblokir? Ikuti Langkah Mudah Ini untuk Membukanya Tanpa Ke Bank
➡️ Baca Juga: Sering Ngidam Cokelat? Kenali Sinyal Penting dari Tubuh Anda