Harga Beras dan Cabai Melonjak, Tindakan TPID Lampung Selatan untuk Mengatasinya

Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan merasakan dampak signifikan dari kenaikan harga beras dan cabai merah. Fenomena ini tidak hanya mempengaruhi daya beli masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terkait stabilitas harga pangan di daerah tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Lampung Selatan mengambil langkah-langkah strategis guna memastikan ketersediaan dan distribusi pangan tetap terjaga.
Kenaikan Harga Beras dan Cabai Merah di Lampung Selatan
Kenaikan harga beras dan cabai merah menjadi perhatian utama di wilayah Lampung Selatan. Berdasarkan data terbaru, harga beras mengalami lonjakan sebesar 5,70 persen, mencapai Rp14.542 per kilogram. Kenaikan ini menempatkan Kabupaten Lampung Selatan pada posisi kedua secara nasional dalam hal peningkatan harga beras. Sementara itu, harga cabai merah juga menunjukkan kenaikan yang tajam, mencapai 16,99 persen dengan harga Rp45.900 per kilogram.
Indeks Perkembangan Harga (IPH) di daerah ini tercatat meningkat 0,98 persen pada minggu pertama bulan Oktober 2026. Angka ini mencerminkan kondisi inflasi yang perlu segera ditangani agar tidak semakin membebani masyarakat. Dalam konteks ini, TPID Kabupaten Lampung Selatan berfokus pada pengamanan pasokan dan distribusi pangan antardaerah, serta merumuskan intervensi pasar yang lebih terukur dan berbasis data.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Masyarakat
Kenaikan harga beras dan cabai tidak hanya berdampak pada inflasi, tetapi juga berpengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat. Dalam situasi seperti ini, masyarakat akan cenderung mengurangi konsumsi komoditas yang harganya melonjak. Hal ini tentu berpotensi mengganggu pola makan dan gizi masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada beras dan cabai sebagai bahan pokok dalam sehari-hari.
- Harga beras mengalami kenaikan 5,70% menjadi Rp14.542/kg.
- Harga cabai merah melonjak 16,99% menjadi Rp45.900/kg.
- Indeks Perkembangan Harga (IPH) meningkat 0,98% di minggu pertama Oktober 2026.
- Posisi Kabupaten Lampung Selatan kedua secara nasional untuk kenaikan harga beras.
- Intervensi pasar berbasis data menjadi fokus utama TPID.
Langkah Strategis TPID dalam Mengatasi Inflasi
Menanggapi kondisi yang ada, TPID Kabupaten Lampung Selatan menggelar Rapat Teknis pada 8 Oktober 2026 untuk membahas langkah-langkah yang perlu diambil. Dalam rapat tersebut, Mahat Santosa, Kepala Bagian Perekonomian, menekankan pentingnya memastikan pasokan dan distribusi pangan tetap berjalan dengan baik, terutama saat produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Secara khusus, TPID berencana untuk memperkuat pemetaan stok pangan dan membuka saluran komunikasi dengan daerah-daerah yang memiliki surplus komoditas. Hal ini penting untuk memastikan ketersediaan pangan di daerah yang mengalami kekurangan. Mahat menegaskan, “Jangan menunggu panen lokal. Jika terdapat daerah yang surplus, segera buka komunikasi agar pasokan dapat didatangkan.”
Kerja Sama Antar Daerah untuk Menjamin Ketersediaan Pangan
TPID juga akan memperkuat kerja sama antar daerah melalui skema business to business (B2B). Dengan pendekatan ini, jalur pasokan tidak hanya bergantung pada produksi lokal, tetapi juga dapat mencakup pasokan dari luar daerah. Kerja sama tersebut akan dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman agar pasokan alternatif dapat segera diakses saat kebutuhan masyarakat meningkat.
- Memperkuat pemetaan stok pangan.
- Membuka komunikasi dengan daerah surplus.
- Menjalin kerja sama antar daerah melalui skema B2B.
- Menyusun nota kesepahaman untuk mempercepat pasokan.
- Menjamin ketersediaan pangan saat kebutuhan meningkat.
Pentingnya Intervensi Pasar dan Pengawasan
Selain fokus pada pengamanan pasokan, TPID juga akan melaksanakan intervensi langsung di pasar melalui Gerakan Pangan Murah (GPM). GPM ini mencakup program khusus untuk cabai, yang bertujuan untuk menstabilkan harga dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan. Pengawasan yang ketat melalui inspeksi pasar dan imbauan kepada pelaku usaha juga diperkuat untuk menjaga kestabilan harga.
Pentingnya evaluasi intervensi juga disampaikan, mengingat berbagai strategi yang telah diterapkan belum sepenuhnya menahan laju kenaikan harga. Setiap langkah pengendalian perlu diukur berdasarkan perkembangan harga dan ketersediaan barang di lapangan. Dengan pendekatan data-driven, TPID Lampung Selatan menargetkan penurunan IPH mingguan menjadi 0,5 persen.
Target Stabilitas Harga di Lampung Selatan
Dengan berbagai langkah yang diambil, TPID berharap harga beras dapat kembali mendekati kisaran Harga Acuan Penjualan (HAP), sementara harga cabai merah ditargetkan turun secara signifikan. “Targetnya, tekanan harga ini bisa kita turunkan secara bertahap. IPH mingguan diharapkan turun menjadi 0,5 persen, disertai pengendalian harga beras dan cabai merah agar kembali mendekati harga acuan,” ungkap Mahat.
Melalui upaya memperkuat pasokan, membuka jalur distribusi antar daerah, serta evaluasi intervensi yang berbasis data, TPID Lampung Selatan berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Langkah-langkah ini diharapkan dapat melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan harga sejumlah komoditas pangan yang terus berfluktuasi.
➡️ Baca Juga: 7 Pertandingan Tanpa Kemenangan Melawan Milan: Fakta Kutukan Derby bagi Inter Milan
➡️ Baca Juga: Kepala BNN Ajak Mahasiswa Trisakti Berperan Aktif dalam Pencegahan Narkotika