Luka Bakar Bocah 8 Tahun di Leuwisari Tasikmalaya Diduga Akibat Disiram Bensin Saat Bermain

Di tengah kebahagiaan bermain, sebuah tragedi menimpa seorang bocah berusia 8 tahun di Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Peristiwa ini bukan hanya menyentuh hati, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai keselamatan anak-anak dan tanggung jawab orang dewasa dalam menjaga lingkungan bermain mereka.
Detail Kejadian Luka Bakar
Anak tersebut mengalami luka bakar yang parah, yang diduga terjadi saat ia asyik bermain meriam bambu (lodong) bersama teman-temannya. Luka bakar ini melibatkan hampir seluruh tubuhnya dan menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat.
Peristiwa menyedihkan ini terungkap setelah ibu korban, yang dikenal dengan inisial E, melaporkan kejadian tersebut secara resmi kepada Polres Tasikmalaya pada Selasa, 21 April 2026. Dalam laporannya, E mengungkapkan kronologi kejadian yang mengerikan ini.
“Kejadian itu berlangsung pada akhir Maret lalu. Anak saya meminta izin untuk bermain meriam bambu dengan teman-temannya. Namun, ketika ia kembali ke rumah, seluruh tubuhnya dipenuhi luka bakar,” ungkap E saat memberikan laporan di Mapolres Tasikmalaya.
Kronologi Kejadian
Awalnya, bocah tersebut menjelaskan bahwa luka bakar yang dialaminya disebabkan oleh kecelakaan ketika ia tidak sengaja menyenggol bensin yang digunakan untuk menyalakan meriam bambu. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah diinterogasi lebih lanjut, pengakuannya mulai berubah.
“Saat pertama kali ditanya, dia mengaku hanya menyenggol bensin. Namun, ketika saya tanyakan lebih lanjut apakah itu disenggol atau disiram, ia mengangguk,” lanjut E, menunjukkan adanya kemungkinan bahwa insiden tersebut mungkin lebih serius dari yang diperkirakan.
Kondisi Korban
Korban mengalami luka bakar di berbagai bagian tubuhnya, termasuk wajah, leher, badan, kaki, dan area sensitif. Saat ini, kondisi kesehatan anak tersebut sangat memprihatinkan; ia terpaksa terbaring lemah di rumah dan tidak dapat bersekolah.
Selama beberapa waktu, ia telah menjalani perawatan di berbagai rumah sakit di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah, namun kondisinya belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Dukungan dari Komisi Perlindungan Anak
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kabupaten Tasikmalaya mengambil peran aktif dalam mendampingi keluarga korban. Mereka berusaha untuk memastikan bahwa kasus ini ditangani dengan serius dan transparan.
Ketua KPAI Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, menyatakan bahwa terdapat indikasi lain yang mungkin terlibat dalam insiden ini. “Korban justru menyatakan bahwa dia disiram bensin oleh temannya dari belakang, yang mengakibatkan seluruh tubuhnya terbakar,” ujarnya, menyoroti potensi adanya unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut.
Investigasi dan Tindak Lanjut
Pihak KPAI tidak hanya mendalami dugaan unsur kesengajaan dalam insiden ini, tetapi juga menelusuri kemungkinan adanya perundungan di balik kejadian tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya untuk menindaklanjuti setiap laporan dengan cermat dan teliti.
Ato menambahkan, “Kami mendorong orang tua untuk melapor agar kasus ini bisa mendapatkan penanganan yang jelas. Ada beberapa pernyataan dari korban yang berubah-ubah, mulai dari ketidaktahuan mengenai bahan bakar hingga mengaku disiram bensin.”
Penanganan oleh Pihak Berwenang
Kasus ini saat ini ditangani oleh Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polres Tasikmalaya. Aiptu Josner Ringgo, selaku Kanit PPA, memastikan bahwa laporan mengenai anak dengan luka bakar ini telah diterima dan sedang dalam proses pengumpulan bukti.
“Kami telah menerima laporan mengenai anak yang mengalami luka bakar. Orang tua menemukan fakta yang mengarah pada dugaan tindak pidana. Saat ini, kami masih mengumpulkan bukti-bukti sambil tetap mengedepankan prinsip peradilan anak,” jelasnya, menegaskan komitmen pihak berwenang dalam menangani kasus ini dengan serius.
Pentingnya Kesadaran dan Tindakan Preventif
Peristiwa ini mengingatkan kita semua akan pentingnya kesadaran akan keamanan anak-anak saat bermain. Tindakan preventif harus diambil untuk mencegah kejadian serupa agar tidak terulang di masa mendatang. Orang tua dan pengasuh diharapkan untuk selalu memantau situasi bermain anak-anak, terutama ketika melibatkan benda-benda berbahaya seperti bahan bakar.
- Perhatikan lingkungan bermain anak agar aman.
- Berikan edukasi tentang bahaya bermain dengan api atau bahan bakar.
- Selalu dampingi anak ketika bermain, terutama dengan alat berbahaya.
- Selidiki laporan anak dengan serius dan terbuka.
- Libatkan pihak berwenang jika merasa ada potensi bahaya atau tindak pidana.
Kesadaran kolektif dan tindakan preventif yang tepat dapat melindungi anak-anak dari berbagai bahaya yang tidak terduga. Dengan kasus ini, diharapkan akan ada perubahan positif dalam cara masyarakat menjaga keselamatan anak-anak dalam lingkungan bermain mereka.
➡️ Baca Juga: Puskesmas Sintuk Dipindahkan ke Lokasi Baru untuk Menghindari Dampak Banjir
➡️ Baca Juga: Pelaku Industri Logistik Tetap Optimis dengan Target Ambisius di Tengah Ketidakpastian